Selasa, 06 April 2010

TANDA IMAN DAN KASIH II

Kisah penguburan Yesus oleh Yusuf Arimatea dan Nicodemus seperti yang disaksikan oleh Injil Yohanes 19:38-42 sungguh menyejukkan hati kita. Bila dalam hari-hari sebelum ini kita dihadapkan pada hingar bingar suara-suara penuh kebencian dan angkara, kini dalam keteduhan setelah kematian Yesus, kita menyaksikan ungkapan iman dan kasih tak terperikan. Apabila kematian-Nya adalah dengan cara teramat keji dan nista, kini penguburan-Nya dengan cara teramat mulia dan terpuji. Ia dikuburkan di dalam kubur yang baru di sebuah taman. Sebelum dikuburkan, mayat Yesus dibalut dengan kain kafan dan diurapi dengan rempah-rempah. Itulah penghormatan yang Yesus terima sesudah Ia mati.

Yusuf dari Arimatea dan Nicodemus yang melakukan penghormatan tersebut. Keduanya menurut catatan Injil Yohanes, adalah murid-murid yang diam-diam menyembunyikan identitas mereka. Ketika Yesus masih hidup tidak pernah mereka memiliki keberanian menyatakan kepercayaan mereka. Keduanya mungkin adalah tokoh agama atau tokoh masyarakat yang kedudukannya membuat mereka sulit untuk mengaku secara terbuka sebagai pengikut Yesus. Hal ini diisyaratkan oleh kisah Nicodemus yang diam-diam di malam hari datang menjumpai Yesus. Tetapi iman dan kasih tak akan pernah seterusnya dapat disembunyikan dan bersifat rahasia. Justru ketika para murid Yesus yang semasa hidup Yesus berterus terang mengikuti Dia kini bersembunyi dalam ketakutan, kini kedua murid rahasia ini dengan berani meminta kepada Pilatus agar diizinkan menguburkan mayat Yesus. Mereka tidak lagi peduli bahwa kedudukan mereka menjadi taruhan. Mereka tidak merasa bahwa dengan menunjukkan kasih mereka, nyawa mereka terancam. Sekian lama mungkin mereka diam-diam menjadi pengamat dan orang percaya yang mengambil jarak. Kini sesudah kematian Yesus terjadi, hidup Yesus yang telah dicurahkan bagi mereka juga yang akhirnya membangunkan iman dan kasih itu dari persembunyiannya.

Menjadi murid secara diam-diam tidak sama dengan pura-pura bukan murid Yesus. Kekhawatiran dan ketakutan yang menyebabkan orang tidak berani terbuka menyaksikan imannya akhirnya akan dikalahkan oleh kesadaran akan besarnya pengorbanan kasih Kristus untuknya. Kasih memainkan peranan yang luar biasa. Maria dan Yohanes dalam kasih mereka kepada Yesus menjadi yang pertama percaya akan kebangkitan Yesus. Kasih membuka mata hati dan pikiran mereka.
Menjadi murid Yesus tidak statis, tetapi merupakan proses dalam pengenalan akan Dia. Apakah saudara mengalaminya?
Selamat Hari Raya Paskah.

TRADISI PERAYAAN PASKAH

PASKAH telah dirayakan jauh sebelum gereja mengenal tradisi perayaan Natal. Sejak abad kedua, Paskah merupakan perayaan Kristen yang paling penting. Peristiwa Paskah adalah dasar, titik tolak dan pusat iman Kristen. Keempat Injil dan seluruh kitab Perjanjian Baru ditulis, karena terjadi peristiwa paskah, yaitu hari kebangkitan Yesus Kristus dari kubur. Rasul Paulus menuliskan, “Andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sia jugalah kepercayaan kamu” (I Korintus 15:14).

Di dalam Perjanjian Lama, Paskah atau Passover atau Pesakh (Ibrani) atau Pascha (Yunani) adalah perayaan pembebasan bangsa Israel dari tanah Mesir (lambang perbudakan dosa, penghukuman dan kematian). Sejalan dengan makna Paskah dalam Perjanjian Lama, Paskah dalam Perjanjian Baru menunjukkan kasih, anugerah dan kuasa Allah yang meluputkan umat milik-Nya dari kutuk dan maut, membebaskan orang percaya dari perbudakan dosa serta memberikan kepastian kebangkitan kekal di akhir zaman, melalui kebangkitan Kristus. Paskah Perjanjian Baru merupakan wujud dan penggenapan Paskah Perjanjian Lama.

Pada masa lalu umat Allah merayakan Paskah dalam berbagai lambang, karena seperti yang dinyatakan dalam Kolose 2:17 dan Ibrani 10:1, hari raya-hari raya pada masa Perjanjian Lama adalah bayangan dari apa yang akan datang, dan wujudnya adalah Kristus. Pada masa kini, gereja Tuhan di seluruh dunia merayakan Paskah dalam arti yang sesungguhnya dan sempurna, yaitu Kristus Anak Domba Paskah (I Korintus 5:7-8).

Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu
dari pada seribu hari di tempat lain;
lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allah-ku
dari pada diam di kemah-kemah orang fasik.
(Mazmur 84:11 TB-LAI)

SEJARAH SINKAT JUDUL KE 3

F. PAPA THIESSEN MEMILIH JAWA BARAT

Perkembangan selanjutnya, para Pelopor Pinksterbeweging tersebut kemudian membagi wilayah pelayanan mereka, dan Papa Thiessen memilih Bandung sebagai basis pelayanan Pinksterbeweging yang dirintisnya.

Pada permulaannya, Papa Thiessen menyewa gedung Pengadilan Negeri di Kota Bandung (Gedung Landariaadzaal), sebagai tempat Kebaktian, sebab pada malam hari gedung tersebut tidak digunakan. Setiap kebaktian yang dilakukan, mengundang banyak perhatian pengunjung dan kuasa mujizat banyak dinyatakan. Banyak yang bertobat dan lahir baru, yang sakit disembuhkan dan banyak yang menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat Pribadi.

Suatu saat Papa Thiessen pernah mengatakan : ”Pada hari biasa orang-orang jahat diadili dan dijatuhi hukuman di ruangan ini, tetapi dalam kebaktian ini mereka yang bertobat dari segala dosa dan kejahatannya, menerima anugerah pengampunan dari Hakim yang Agung yaitu Yesus Kristus”.

Ada beberapa orang yang telah lama tekun berdoa untuk dipenuhi dengan Roh Kudus, akhirnya mereka menerima kepenuhan Roh Kudus, antara lain : Mama Litson, Keluarga Teffer, Keluarga Kuilenberg, Keluarga Darioop dan lain-lain. Dalam waktu relatif singkat kebaktian dalam ruangan tersebut sudah tidak dapat menampung para pengunjung yang semakin banyak, sehingga timbul hasrat untuk membangun Gereja sendiri.

Suatu saat Tuhan menggerakkan hati Zr. Trees Kuilberg, untuk memberikan tanah dan rumahnya di Litsonlaan (sekarang Jl. Marjuk No. 11) untuk dibangun Gedung Gereja.

Turut campur Tuhan semata, sehingga selesai juga pembangunan Gereja Pinksterbeweging yang pertama di Bandung yang diberi nama “Bethel”. Gedung Gereja baru ini dapat menampung ± 300 orang, di tempat inilah Papa Thiessen yang kemudian dibantu oleh anak-anaknya dan pelayan-pelayan Tuhan lainnya mengabarkan Injil dengan penuh kuasa dan heran.

Sesuai ketentuan Pemerintah Hindia Belanda di Indonesia tentang Pekabaran Injil, maka Papa Thiessen mengajukan permohonan untuk memberitakan Injil di Daerah Jawa Barat, dan pada tanggal 04 April 1924 Papa Thiessen menerima Surat Keputusan Gouvernuer Generaal Nomor : 28, tertanggal 04 April 1924 dari Gouvernuer Generaal Buitenzorg, sehingga pelayanan Papa Thiessen diakui dan jangkauan pelayanannya semakin meluas di kota-kota lainnya.

G. BERKEMBANG KE BATAVIA

Kira-kira dua tahun kemudian Pinksterbeweging meluas ke Kota Jakarta (waktu itu namanya Batavia).

Mula-mula seorang Ibu dari Jakarta berkunjung ke rumah Keluarga Teffer, Ibu ini melihat ada perubahan besar pada Keluarga Teffer, dan dia mendengarkan kesaksian-kesaksian, sehingga mulai terbuka hatinya untuk datang dalam Kebaktian Rohani itu. Sekembalinya ke Batavia, ia bersaksi kepada keluarganya mengenai apa yang disaksikan dan dialaminya tentang Kebaktian Pinksterbeweging, sambil memberikan beberapa majalah “Dis is Het” yang di bawanya dari Bandung.

Waktu mama Wetters membaca majalah tersebut ia berkata : “Inilah Kebenaran, undanglah tuan Thiessen datang ke sini”. Itulah pertama Pinkster di Jakarta, yaitu di rumah Keluarga Wetters Jl. Kebon Sirih No. 49 Jakarta. Beberapa Keluarga Wetter diundang antara lain Keluarga Hoogwinkel dan Keluarga De Siso.

Papa Thiessen berkhotbah mengenai kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali dan semua yang mendengarkan Firman Allah tersentuh hatinya dan kemudian menjadi saksi-saksi hidup (kemudian Br. Hoogwinkel menjadi hamba Tuhan Pinksterbeweging di Negeri Belanda).

Jemaat Pinksterbeweging di Jakarta berkembang pesat, kemudian mereka menyewa sebuah rumah di Jl. Kwitang No. 6 Jakarta Pusat.

Jiwa-jiwa yang dimenangkan kemudian minta dibaptiskan dalam air, termasuk diantaranya putera Papa Thiessen sendiri yaitu Hendrik Thiessen (Rev. H. Thiessen / Bapa Rohani GGP) dan Nona Andriana Wetters (Isteri Rev. H. Thiessen).

Dalam Kebaktian-kebaktian mujizat Allah dinyatakan, dimana banyak orang menerima Yesus sebagai Juru Selamat, banyak yang disembuhkan dan dipenuhi Roh Kudus. Pada Kebaktian yang diadakan di Gedung Loge, diantara para pengunjung, juga hadir Dokter-dokter, Profesor yang bermaksud ingin mengadakan Penyelidikan perkara ini, dan pada waktu itu hampir boleh dikatakan seluruh Jakarta berbicara mengenai Pinksterbeweging.

Kemudian timbullah tantangan dari golongan yang tidak menginginkan perkembangan Pinksterbeweging dan justru tantangan ini datangnya dari kalangan umat Kristen sendiri yang tidak mengerti dan tidak mau menerima kenyataan pekerjaan Roh Kudus.

Melalui surat kabar Papa Thiessen difitnah, bahwa ajarannya adalah ajaran sesat, sekte bidat dan sebagainya. Suatu saat pernah Papa Thiessen dipanggil Pengadilan dan didenda sebesar 25 Golden, karena Papa Thiessen mengadakan Kebaktian dengan mujizat-mujizat terutama “Kesembuhan Illahi”.

Papa Thiessen menolak segala tuduhan yang mengatakan ia pembawa sekte atau aliran kepercayaan baru karena beliau berdiri atas dasar yang teguh yaitu Firman Allah, sebagaimana yang dikatakan oleh Tuhan Yesus : “Pergilah kamu ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang percaya : mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan bicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka : mereka akan menumpangkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan disembuhkan” (Mrk 16 : 15 - 18).

Papa Thiessen dengan dibantu oleh beberapa Hamba Tuhan Pinksterbeweging mengirim Telegram kepada Ratu Wilhelmina yang berisi kira-kira 100 kata, memohon kepada Pemerintah Hindia Belanda yang telah memperjuangkan kebebasan beragama selama delapan puluh tahun, supaya memberikan ijin kepada Papa Thiessen untuk diberikan kebebasan mengabarkan Injil.

Tanpa mendapat rintangan Telegram tersebut dijawab dengan Surat Keputusan dari Kerajaan Belanda yang menyatakan : “Jangan menghalang-halangi Pinksterbeweging ini“.

Dengan Keputusan ini maka oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada waktu itu dikeluarkan Surat-surat Keputusan, yang memberikan ijin kepada Pinksterbeweging untuk mengabarkan Injil ke seluruh Pulau Jawa, Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan. Surat-surat keputusan tersebut (terlampir ) :

1. Surat Keputusan, No : 24, tertanggal Cipanas 02 Juli 1931.
2. Surat Keputusan, No : 23, tertanggal Batavia 20 September 1934.
3. Surat Keputusan, No : 35, tertanggal Batavia 10 Oktober 1934.

Sementara itu Jemaat di Jakarta berkembang terus, sehingga akhirnya Papa Thiessen mengambil alih sebuah gedung bekas Gereja Methodis di Jl. Kramat Soka No. 4 (sekarang GGP “Ecclesia Christi”).

Ketika pecah perang, Gereja Pinksterbeweging Kramat Soka ini pernah diduduki oleh Tentara Inggris, kemudian atas usaha Rev. Henk Thiessen akhirnya Gedung ini dikembalikan kepada Pinksterbeweging.

Saat ini Pinksterbeweging sudah merupakan Gereja yang di kenal sebagai Gereja Gerakan Pentakosta (GGP).

Sebelum Tuhan Yesus Kristus kembali sebagai Pengantin Lelaki, maka Roh Kudus bekerja untuk mengembalikan umat Tuhan pada jalanNya yang benar agar tidak terhilang untuk selama-lamanya.

Kelompok Besar Pentakosta telah diakui oleh dunia Kristen sebagai kelompok The Third Power, kuasa ketiga, disamping Kelompok besar Katholik dan Protestan.

Rev. Johannes Gerhard Thiessen Sr kembali ke Allah Bapa pada tahun 1953 dalam usia 83 tahun, dan sampai akhir hayatnya beliau tetap melayani Jemaat.

Ayat kenangan bagi Rev. Johannes Thiessen Sr adalah Ibrani 11 : 4, ”Karena Iman ia masih berbicara, sesudah ia mati”.

Ia mempunyai beberapa putera dan puteri antara lain Rev. Hendrik Thiessen yang meninggal pada usia 79 tahun, pada hari Senin, 11 Mei 1987, Pkl. 16.45 WIB di kediaman Jl. Danau Galingging No. 9 Pejompongan Jakarta Pusat.

Setelah disemayamkan semalam di GGP Shalom Jl. Semar No. 36 Bandung, maka pada hari Rabu tanggal 13 Mei 1987, Pkl. 14.00 WIB Beliau di makamkan di TPU Pandu Bandung.

SEJARAH SINGKAT JUDUL 2

B. MENUJU KE SUMATERA

Pada tahun 1901, Papa Thiessen bersama Isterinya Anna Maria Vink, berangkat ke Indonesia dari Negeri Belanda, diutus oleh Doopgezinde Kerk, sebagai Guru Injil (Zending Leeren), dengan tujuan Daerah Sumatera Utara, khususnya untuk melayani suku Batak. Evangelis J. Thiessen seangkatan dengan Nommensen, yang juga seorang Penginjil yang cukup dikenal pada waktu itu di antara Suku Batak. Mula-mula Papa Thiessen membawa Injil yang holistik, maksudnya sambil melayani Jemaat, beliau juga melayani kesehatan masyarakat disekitarnya. Untuk itu ia mendirikan Gereja, juga mendirikan Rumah Sakit. Ketika melayani di Pulau Sumatera ini, tepatnya di Pekantan selama 13 (tiga belas) tahun, Papa Thiessen di karuniai 3 (tiga) orang putera dan 3 (tiga) orang puteri.

C. KEMBALI KE BELANDA

Pada tahun 1916, karena tugasnya di Sumatera selesai, maka Papa Thiessen dan keluarganya kembali ke Negeri Belanda. Ketika itu, di Amerika Serikat sedang dilanda oleh Gerakan Pentakosta, yang kemudian gerakan tersebut sampai di Benua Eropa, khususnya Negeri Belanda. Kebangunan Rohani terjadi di mana-mana, dan Kuasa Roh Kudus dinyatakan dalam setiap Kebaktian Kebangunan Rohani.

Papa Thiessen sendiri dibaptis Roh Kudus di Switzerland. Pada waktu di Eropa Ev. J. Thiessen banyak mendengar dan mengikuti Kebaktian Kebangunan Rohani. Di Swiss Beliau bertemu dengan perkumpulan Pinkster yang pertama dan dalam salah satu kebaktian yang diikuti, beliau dibaptiskan dengan Roh Kudus.

Setelah merasa menerima Api Pinkster, Beliau pergi ke Jerman Barat. Papa Thiessen di Jerman, berkenalan dengan Pastor Jonathan Paul, perintis Pinksterbeweging (Gerakan Pentakosta) di Jerman, dan juga beliau berkenalan dengan Br. Roelof Polman, Pinksterbeweging di Belanda, kemudian beliau mengalami kepenuhan Roh Kudus, Tuhan memperbaharui Visi dan Misi pelayanannya, Roh Kudus menggerakkan hati beliau untuk kembali ke Indonesia dan mengabarkan Injil sepenuh.

D. BERANGKAT KE JAWA

Lima tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1921 Papa Thiessen dan keluarganya, berangkat dari Negeri Belanda menuju ke Indonesia. Beliau merintis Pinksterbeweging di Pulau Jawa, sesuai dengan Visi baru yang diterimanya, dengan predikat Evangelist (Penginjil Penuh). Beliau bekerjasama dengan Pelopor Aliran Pentakosta lainnya yang telah melayani di Indonesia terlebih dahulu, seperti Br. Van Klavern, Br. Groesbeek dan Br. Bernard dari Liverpool Inggris.

E. PENCETUS API PENTAKOSTA

Sebenarnya beliau itu merupakan pencetus Api Pentakosta di Indonesia yang telah berkobar di Amerika Serikat dan kemudian menjalar sampai ke Benua Eropa, ini merupakan Gerakan yang hebat dari pada Roh Kudus, yang mengingatkan kita kembali pada pencurahan Roh Suci pada Zaman Rasuli pada hari Raya Pentakosta, sehingga mendapat julukan PENTECOSTAL MOVEMENT. Orang Belanda menamainya PINKSTERBEWEGING, orang Jerman menyebutnya PFINGSTBEWEGUNG.

Rev. J. Thiessen Sr memperkenalkan pekerjaan Roh Kudus itu di tanah air kita sebagai Pinksterbeweging. Beliau hanya berdiri teguh pada Firman Allah. Mempraktekkan kembali apa yang Para Rasul telah lakukan pada tahun pertama itu, sebagai lanjutan dari pekerjaan Tuhan Yesus Kristus itu sendiri.

Pinksterbeweging makin berkembang, di sana sini lahir jemaat baru, terdiri dari orang-orang yang percaya pada pekerjaan Roh Kudus, orang-orang yang terlepas dari pada tekanan-tekanan, orang-orang yang sembuh dari penyakit dahsyatnya, orang-orang yang terlepas dari kuasa-kuasa si jahat, roh-roh setan. Rev. Thiessen Sr tetap berpendirian, bahwa Umat Kristen Pentakosta ini bukanlah merupakan suatu Persekutuan Gerejani, maka beliau sebenarnya pantang menyebut jemaatnya sebagai Pinksterbeweging Kerk, tetapi pd hakekatnya tetap Pinksterbeweging, tok !

Hampir bersamaan waktunya dari Timur Pulau Jawa tercetus Api Pentakosta dibawah pelayanan seorang Amerika keturunan Belanda Rev. Croesbeek kemudian setelah berkembang pesat di Pulau Jawa kedua kelompok besar ini berfungsi di Cepu, karena itu tidaklah heran kalau lama-kelamaan timbul banyak kelompok, berkat menjalarnya Api Roh Kudus itu keberbagai tempat (masih zaman penjajahan Belanda) : Pinksterkerk – Pinkstergemeente – Pinksterzending dan sebagainya, di samping Pinksterbeweging, namun semuanya tetap suatu Gerakan Pentakosta (Pentecostal Movement).

Kebangunan Rohani yang pertama dilaksanakan di Cepu Jawa Timur pada tanggal 29 Maret 1923. Tanggal 29 Maret 1923 tersebut akhirnya di jadikan tanggal berdirinya Pinksterbeweging di Indonesia. Dalam Kebangunan Rohani ini, kuasa`Roh Kudus dinyatakan, banyak mujizat terjadi, yang sakit disembuhkan, banyak yang hadir menerima baptisan Roh Kudus, baik tua maupun muda.

Dari Kota Cepu ini, Api Roh Kudus terus mengalir ke Surabaya, melalui Kebaktian Kebangunan Rohani tanggal 12 April 1923 dan pada tanggal 20 Mei 1923 di Kota Bandung.

SEJARAH SINGKAT AWAL BERDIRINYA GEREJA GERAKAN PENTAKOSTA (PINKSTERBEWEGING) JUDUL 1

SEJARAH SINGKAT AWAL BERDIRINYA
GEREJA GERAKAN PENTAKOSTA
(PINKSTERBEWEGING)

A. REV. JOHANNES GERHARD THIESSEN, SR

Menelusuri Sejarah Gereja Gerakan Pentakosta (Pinksterbeweging) tidaklah dapat dipisahkan dengan tokoh pendirinya Rev. Johannes Gerhard Thiessen Sr. yang dikalangan GGP lebih populer dipanggil Papa Thiessen.

Rev. Johannes Gerhard Thiessen, lahir di Kitchkas Ukraina pada tgl 22 November 1869. Beliau berasal dari Keluarga yang mengasihi Tuhan.

Pada`suatu hari di tahun 1888, Tuhan berfirman kepada keluarga Thiessen dan juga kepada Johannes Gerhard Thiessen : “Kamu menjadi utusan Ku di Sumatera, Aku akan membukakan pintu gerbang bagimu”.

Visi tersebut terus menerus menggema dalam hati dan jiwa pemuda Johannes Gerhard Thiessen, untuk datang melayani Tuhan di Indonesia.

Pada usia 25 tahun Johannes Gerhard Thiessen, menetapkan hatinya untuk belajar Teologia disebuah Seminari ST. Chrischona di Switzerland. Disana ia menekuni pelajaran Teologia hingga tamat. Setelah tamat dari Sekolah Seminari ST. Chrischona tersebut, Thiessen muda ini melengkapi diri untuk menjadi utusan Injil dan ia belajar Ilmu Kedokteran di Rotterdam. Karena Visi yang diperoleh dari Tuhan ia harus melayani di Sumatera, maka Thiessen muda ini belajar bahasa Batak.

Selama Thiessen muda ini belajar Ilmu Kedokteran di Rotterdam, Tuhan rupanya memberikan penolong yang sepadan kepada Thiessen muda ini, seorang gadis yang bernama Anna Maria Vink, yang dikenal beliau sewaktu belajar Ilmu Kedokteran di Rotterdam selama 3 tahun, dan kemudian gadis ini menjadi Isteri yang setia mendampingi Papa Thiessen, dalam melayani Tuhan di Indonesia, sampai akhir hidupnya.

SEJARAH SINGKAT 4

1. Pada tahun 1963 dimulai Kebaktian Sekolah Minggu bertempat di Jl. Kebon Kosong Gg 20, Kemayoran, Jakarta Pusat (di rumah keluarga Arnan Helly Marshali). Pada perayaan natal tahun itu diundang juga orangtua murid sekolah minggu. Melalui kegiatan penginjilan dan perkunjungan, banyak orang tua anak-anak Sekolah Minggu dimenangkan bagi Tuhan. Mereka beribadah di GGP Ecclesia Christi, Jakarta Pusat sebagai induk organisasi. Selanjutnya setiap hari Minggu pagi diadakan Kebaktian anak-anak Sekolah Minggu di Jl. Kebon Kosong Gg 20 tersebut. Pelayan-pelayan disana adalah Bapak Arnan Helly Marshali sendiri dibantu oleh beberapa orang pelayan diantaranya Bapak Wahjudi Firman.
2. Pada tahun 1966, Kebaktian Sekolah Minggu dipindahkan ke Jl. Kebon Kosong Gg 25 (rumah keluarga R. Sutrisno), karena keluarga Arnan Helly Marshali pindah ke daerah lain.
3. Pada tahun 1967 diresmikan berdirinya Pos Penginjilan GGP Ecclesia Christi di daerah Kemayoran dengan nama Pos Kebon Kosong. Sebagai penanggungjawab pos adalah Bapak Arnan Helly Marshali dibantu oleh beberapa pelayan antara lain Bapak Wahjudi Firman dan Bapak Ngabei Saufi.
4. Pada tahun 1969 dibuka kelas Sekolah Minggu yang kedua di daerah Kemayoran, yaitu di Jalan Kalibaru Barat No. 238 Jakarta Pusat (diawali dengan Perayaan Natal). Rumah tersebut milik keluarga Surya Atmaja dan keluarga ini memberikan paviliun rumahnya yang sehari-hari dipergunakan sebagai pool dan bengkel kendaraan roda tiga (becak dan bajaj) untuk diselenggarakan Kebaktian, sebagai wujud terima kasihnya kepada Tuhan atas mujizat yang terjadi pada salah seorang anaknya.
5. Dengan meningkatnya usia anak-anak Sekolah Minggu dan adanya anak-anak remaja yang pindah ke gereja lain karena belum adanya kebaktian remaja, maka pada tanggal 6 September 1970 diadakan Kebaktian Remaja dan Muda/i di Jalan Kalibaru Barat No. 238 dan selanjutnya diadakan Kebaktian Umum setiap minggu sore.
6. Dengan berkembangnya jumlah jemaat yang beribadah dan meningkatnya kegiatan peribadahan maka Pos Kebon Kosong ini dalam Sidang Lengkap Majelis Daerah GGP Jawa Barat dan DKI Jakarta yang diselenggarakan dari tanggal 20 s.d. 22 Mei 1976 ditingkatkan menjadi jemaat mandiri dengan nama GGP Jemaat Kemayoran, dengan gembala jemaat Pdm. Arnan H. Marshali. Anak-anak Sekolah Minggu yang beribadah di Jl. Kebon Kosong Gg 25 yang orangtuanya beribadah di Jemaat Kemayoran, ikut bergabung dan beribadah di Jl. Kalibaru Barat No. 238 Jakarta Pusat. Pada tanggal 16 Maret 1977 Pdm. Arnan Helly Marshali jatuh sakit dan pelayanan selanjutnya ditangani oleh Majelis Jemaat sampai dengan tahun 1983. Pelayan-pelayan yang melayani antara lain Bapak Wahjudi Firman dan Bapak Ootje Schifferling.
7. Pada bulan Februari 1984 Majelis Daerah telah menetapkan Pdt. Lucas H. Jonathan sebagai “Gembala Jemaat Diperbantukan” dan pada tanggal 27 Oktober 1985 mengundurkan diri dengan alasan kesehatan. Pelayanan selanjutnya ditangani oleh Majelis Daerah Jawa.
8. Pada tanggal 8 Januari 1986 Majelis Daerah menetapkan Pdp. Simon M. Gunawan sebagai Pejabat Sementara Gembala Jemaat dan pada tanggal 12 Juli 1987 dilantik sebagai Gembala Jemaat. Pada tanggal 15 Maret 1990 Pdm. Simon M. Gunawan mengundurkan diri sebagai Gembala Jemaat dan pelayanan firman Tuhan selanjutnya diatur oleh Majelis Wilayah DKI Jakarta dan pelayanan lainnya diserahkan kepada Majelis Jemaat.
9. Jemaat beribadah dengan cara berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah lain, diawali dari Jl. JKalibaru Barat No. 238 Pasar Nangka, tahun 1989 di Kebon Kosong Gg 12/706, Kemayoran Jakarta Pusat, kemudian di. Kebon Kosong Gg 22/116, dan terakhir di GGP Kanaan, Jl. Kelinci Raya No. 66 sejak bulan Agustus 1998 sampai sekarang.
10. Pada tanggal 14 April 1991 Pdt. Jusuf Ishak ditetapkan sebagai Pejabat Gembala Jemaat dan pada tanggal 28 November 1993 ditetapkan sebagai Gembala Jemaat GGP Kemayoran.
11. Jemaat GGP Kemayoran sejak bulan Mei 2000 berganti nama menjadi Jemaat GGP Metanoia.


Jakarta, 23 Mei 2004

Senin, 05 April 2010

TANDA IMAN DAN KASIH 1

PUNCAK pengorbanan Yesus terjadi pada penyaliban. Semua orang zaman itu tahu bahwa itulah hukuman mati paling ngeri dan paling menyiksa. Untuk zaman ini, kita punya kata tepat: hukuman secara biadab. Yohanes dalam Injilnya tidak sampai hati melukiskan seluruh adegan penyiksaan yang Yesus harus tanggung. Cukup dengan melukiskan bahwa Yesus memikul salib-Nya lalu dihukum mati di antara para penjahat. Kemudian adegan lain menunjukkan penghinaan para prajurit yang merampas jubah-Nya. Ia diberi minum anggur asam, dan lambung-Nya ditikam.
Seandainya Dia belum mati menjelang hari sabat, kaki-Nya akan dipatahkan agar memaksa-Nya mati. Sungguh kematian yang mengerikan. Itulah yang kita peringati dalam hari raya Jumat Agung.
Namun, justru di tengah pekatnya penderitaan dan kejahatanlah sinar kemuliaan anugerah Allah terpancar dengan amat indahnya. Pertama, dalam tiga bahasa yang mewakili dunia pada waktu itu, Yesus diakui sebagai Raja. Maksud tindakan itu tentu adalah untuk menghina Yesus dan menghina orang Yahudi. Tetapi, ini justru memperlihatkan prinsip kerajaan Allah: kekuatan di dalam kelemahan, kemenangan melalui kekalahan, kemuliaan di dalam keaiban tak terperikan.
Kedua, kasih tak terperikan. Dapat kita bayangkan betapa hancur hati wanita yang pernah mengandung Yesus. Yesus melupakan penderitaan-Nya dan memperhatikan penderitaan ibu-Nya. Sekaligus dalam perhatian-Nya itu tegas ucapan dari seorang yang kini berada dalam posisi juru selamat dunia, juga juru selamat Maria.
Ketiga, puncak dari hukuman tersebut adalah kematian Yesus. Dua hal penting ditegaskan Yohanes dalam Injilnya. Ia berseru, "sudah genap",

lalu menyerahkan nyawa-Nya : suatu kematian di dalam rencana Allah, kematian yang adalah kemenangan dari hidup, dan kematian dari kematian itu sendiri. Akhirnya, puncak dari kematian Yesus itu adalah bahwa tulang-tulang-Nya tidak dipatahkan. Kemudian ketika lambung-Nya ditusuk, keluarlah air dan darah, tanda bahwa Dia sunguh sudah mati. Bagian terakhir ini kemudian dipakai Yohanes menjadi lambang bahwa dari kematian-Nya mengalir air pengudusan dan darah penebusan untuk orang beriman. Apakah tindakan kongkret kita hari ini untuk menunjukkan bahwa hari Jumat Agung adalah hari kemurahan Tuhan? Paling tidak kita bisa mendoakan dan menunjukkan kasih kepada orang-orang yang memusuhi kita.

BERKOBAN BAGI TUHAN

Tuhan tidak tunduk pada siapa pun. Tuhan adalah Tuhan yang tunduk pada diri sendiri. Dalam diri-Nya sendiri. Dalam diri Tuhan ada hukum dan keadilan-Nya - apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituai. Tidak mungkin Tuhan memberikan mahkota tanpa salib. Tidak mungkin ia memberikan upah tanpa kerja. Tidak mungkin ia memberikan kemuliaan tanpa penderitaan. Tidak mungkin Tuhan memberikan perhentian tanpa kelelahan. Alkitab mencatat bahwa hanya orang yang menderita bersama-sama dengan Tuhan yang akan dimuliakan bersama-sama dengan dia. Dalam Roma 8:17 Alkitab berkata "Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang berhak menerima janji-janji allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan dia." Maksudnya disini adalah, walaupun kita adalah anak bapa sorgawai, kita tidak akan jadi ahli waris jika kita tidak berlelah untuk pekerjaan Tuhan. Pelayanan pekerjaan Tuhan yang di percayakan kepada kita adalah salib yang membuat kita merasa lelah atau menderita. Penderitaan itu antara lain dalam bentuk korban waktu, tenaga, uang, perasaandan kenyamanan kitauntuk keselamatan orang lain dan pendewasaan rohaninya.

Tahukah saudara bahwa jika kita mendukung Tuhan, pada saat dia datang nanti kita akan dipermuliakan bersama-sama dengan dia didalam kerajaan-Nya? Dan berbahgialah orang-orang yang hari ini mau melayani Tuhan,berkorban untukTuahan,berlelah untuk Tuhan, dianiaya karena Tuhan, dan orang-orang yang mau memikul salibnya sebab dia akan menuai apa yang dia tabur. Dalm hal ini kita harus mengingt sikap Tuhan kepada Saul yang tidak dapat di percayai, sehingga Tuhan menarik kepercayaan-NYatersebut dan memberikannya kepada Daud sebagai seseorang yang dianggapberkenan kepada-Nya. Begitu dengan kita sekarang, Tuhan-pun dapat menggantikan kedudukan kita dengan orang lain jika kita menolak kesempatan untuk berkarya dan berkorban bagi Tuhan.