Selasa, 06 April 2010

TRADISI PERAYAAN PASKAH

PASKAH telah dirayakan jauh sebelum gereja mengenal tradisi perayaan Natal. Sejak abad kedua, Paskah merupakan perayaan Kristen yang paling penting. Peristiwa Paskah adalah dasar, titik tolak dan pusat iman Kristen. Keempat Injil dan seluruh kitab Perjanjian Baru ditulis, karena terjadi peristiwa paskah, yaitu hari kebangkitan Yesus Kristus dari kubur. Rasul Paulus menuliskan, “Andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sia jugalah kepercayaan kamu” (I Korintus 15:14).

Di dalam Perjanjian Lama, Paskah atau Passover atau Pesakh (Ibrani) atau Pascha (Yunani) adalah perayaan pembebasan bangsa Israel dari tanah Mesir (lambang perbudakan dosa, penghukuman dan kematian). Sejalan dengan makna Paskah dalam Perjanjian Lama, Paskah dalam Perjanjian Baru menunjukkan kasih, anugerah dan kuasa Allah yang meluputkan umat milik-Nya dari kutuk dan maut, membebaskan orang percaya dari perbudakan dosa serta memberikan kepastian kebangkitan kekal di akhir zaman, melalui kebangkitan Kristus. Paskah Perjanjian Baru merupakan wujud dan penggenapan Paskah Perjanjian Lama.

Pada masa lalu umat Allah merayakan Paskah dalam berbagai lambang, karena seperti yang dinyatakan dalam Kolose 2:17 dan Ibrani 10:1, hari raya-hari raya pada masa Perjanjian Lama adalah bayangan dari apa yang akan datang, dan wujudnya adalah Kristus. Pada masa kini, gereja Tuhan di seluruh dunia merayakan Paskah dalam arti yang sesungguhnya dan sempurna, yaitu Kristus Anak Domba Paskah (I Korintus 5:7-8).

Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu
dari pada seribu hari di tempat lain;
lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allah-ku
dari pada diam di kemah-kemah orang fasik.
(Mazmur 84:11 TB-LAI)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar