Selasa, 06 April 2010

SEJARAH SINGKAT JUDUL 2

B. MENUJU KE SUMATERA

Pada tahun 1901, Papa Thiessen bersama Isterinya Anna Maria Vink, berangkat ke Indonesia dari Negeri Belanda, diutus oleh Doopgezinde Kerk, sebagai Guru Injil (Zending Leeren), dengan tujuan Daerah Sumatera Utara, khususnya untuk melayani suku Batak. Evangelis J. Thiessen seangkatan dengan Nommensen, yang juga seorang Penginjil yang cukup dikenal pada waktu itu di antara Suku Batak. Mula-mula Papa Thiessen membawa Injil yang holistik, maksudnya sambil melayani Jemaat, beliau juga melayani kesehatan masyarakat disekitarnya. Untuk itu ia mendirikan Gereja, juga mendirikan Rumah Sakit. Ketika melayani di Pulau Sumatera ini, tepatnya di Pekantan selama 13 (tiga belas) tahun, Papa Thiessen di karuniai 3 (tiga) orang putera dan 3 (tiga) orang puteri.

C. KEMBALI KE BELANDA

Pada tahun 1916, karena tugasnya di Sumatera selesai, maka Papa Thiessen dan keluarganya kembali ke Negeri Belanda. Ketika itu, di Amerika Serikat sedang dilanda oleh Gerakan Pentakosta, yang kemudian gerakan tersebut sampai di Benua Eropa, khususnya Negeri Belanda. Kebangunan Rohani terjadi di mana-mana, dan Kuasa Roh Kudus dinyatakan dalam setiap Kebaktian Kebangunan Rohani.

Papa Thiessen sendiri dibaptis Roh Kudus di Switzerland. Pada waktu di Eropa Ev. J. Thiessen banyak mendengar dan mengikuti Kebaktian Kebangunan Rohani. Di Swiss Beliau bertemu dengan perkumpulan Pinkster yang pertama dan dalam salah satu kebaktian yang diikuti, beliau dibaptiskan dengan Roh Kudus.

Setelah merasa menerima Api Pinkster, Beliau pergi ke Jerman Barat. Papa Thiessen di Jerman, berkenalan dengan Pastor Jonathan Paul, perintis Pinksterbeweging (Gerakan Pentakosta) di Jerman, dan juga beliau berkenalan dengan Br. Roelof Polman, Pinksterbeweging di Belanda, kemudian beliau mengalami kepenuhan Roh Kudus, Tuhan memperbaharui Visi dan Misi pelayanannya, Roh Kudus menggerakkan hati beliau untuk kembali ke Indonesia dan mengabarkan Injil sepenuh.

D. BERANGKAT KE JAWA

Lima tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1921 Papa Thiessen dan keluarganya, berangkat dari Negeri Belanda menuju ke Indonesia. Beliau merintis Pinksterbeweging di Pulau Jawa, sesuai dengan Visi baru yang diterimanya, dengan predikat Evangelist (Penginjil Penuh). Beliau bekerjasama dengan Pelopor Aliran Pentakosta lainnya yang telah melayani di Indonesia terlebih dahulu, seperti Br. Van Klavern, Br. Groesbeek dan Br. Bernard dari Liverpool Inggris.

E. PENCETUS API PENTAKOSTA

Sebenarnya beliau itu merupakan pencetus Api Pentakosta di Indonesia yang telah berkobar di Amerika Serikat dan kemudian menjalar sampai ke Benua Eropa, ini merupakan Gerakan yang hebat dari pada Roh Kudus, yang mengingatkan kita kembali pada pencurahan Roh Suci pada Zaman Rasuli pada hari Raya Pentakosta, sehingga mendapat julukan PENTECOSTAL MOVEMENT. Orang Belanda menamainya PINKSTERBEWEGING, orang Jerman menyebutnya PFINGSTBEWEGUNG.

Rev. J. Thiessen Sr memperkenalkan pekerjaan Roh Kudus itu di tanah air kita sebagai Pinksterbeweging. Beliau hanya berdiri teguh pada Firman Allah. Mempraktekkan kembali apa yang Para Rasul telah lakukan pada tahun pertama itu, sebagai lanjutan dari pekerjaan Tuhan Yesus Kristus itu sendiri.

Pinksterbeweging makin berkembang, di sana sini lahir jemaat baru, terdiri dari orang-orang yang percaya pada pekerjaan Roh Kudus, orang-orang yang terlepas dari pada tekanan-tekanan, orang-orang yang sembuh dari penyakit dahsyatnya, orang-orang yang terlepas dari kuasa-kuasa si jahat, roh-roh setan. Rev. Thiessen Sr tetap berpendirian, bahwa Umat Kristen Pentakosta ini bukanlah merupakan suatu Persekutuan Gerejani, maka beliau sebenarnya pantang menyebut jemaatnya sebagai Pinksterbeweging Kerk, tetapi pd hakekatnya tetap Pinksterbeweging, tok !

Hampir bersamaan waktunya dari Timur Pulau Jawa tercetus Api Pentakosta dibawah pelayanan seorang Amerika keturunan Belanda Rev. Croesbeek kemudian setelah berkembang pesat di Pulau Jawa kedua kelompok besar ini berfungsi di Cepu, karena itu tidaklah heran kalau lama-kelamaan timbul banyak kelompok, berkat menjalarnya Api Roh Kudus itu keberbagai tempat (masih zaman penjajahan Belanda) : Pinksterkerk – Pinkstergemeente – Pinksterzending dan sebagainya, di samping Pinksterbeweging, namun semuanya tetap suatu Gerakan Pentakosta (Pentecostal Movement).

Kebangunan Rohani yang pertama dilaksanakan di Cepu Jawa Timur pada tanggal 29 Maret 1923. Tanggal 29 Maret 1923 tersebut akhirnya di jadikan tanggal berdirinya Pinksterbeweging di Indonesia. Dalam Kebangunan Rohani ini, kuasa`Roh Kudus dinyatakan, banyak mujizat terjadi, yang sakit disembuhkan, banyak yang hadir menerima baptisan Roh Kudus, baik tua maupun muda.

Dari Kota Cepu ini, Api Roh Kudus terus mengalir ke Surabaya, melalui Kebaktian Kebangunan Rohani tanggal 12 April 1923 dan pada tanggal 20 Mei 1923 di Kota Bandung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar